KISAH VERA USAI PENGANGKATAN TUMOR DI BATANG OTAKmeningioma, tumor otak, buta, lumpuh, migrain, nyeri kepala, CT scan, mri 

“SAYA SEMPAT DIVONIS USIA TINGGAL 6 BULAN”

 

Tumor yang tumbuh di batang otak membuat wanita yang tinggal di Yogjakarta ini mengalami kelumpuhan total. Sudah tak terhitung berbagai teknik pengobatan modern sampai supranatural dia jalani namun sama sekali tak membuahkan hasil. “Bahkan usia saya sudah divionis tinggal enam bulan lamanya,” kata desainer batik tersebut. Tapi berkat perjuangan yang berliku akhirnya dia berhasil menemukan kesembuhan. Berikut wawancara BSC dengan Vera Gazali (45) di Surabaya

Bagaimana awal mula Anda sakit?

                Awalnya tahun 2010 saya merasakan kebas pada jari telunjuk dan tengah di kedua tangan. Semula saya biarkan toh rasa kebas itu tidak menganggu, lagi pula saya pikir nanti akan hilang dengan sendirinya. Saya tak menyangkan ini awal dari petaka.

                Saya mulai curiga setelah rasa kebas menjalar ke bagian tubuh lainnya, misalnya telapak tangan dan seterusnya. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, kemudian saya coba periksa ke dokter saraf di Yogjakarta.Menurut dokter karena adanya penyumbatan pembuluh darah. Tapi anehnya, meski sudah diberi obat tidak ada perubahan justru makin parah. Tak hanya kebas, namun seluruh bagian tubuh jadi lemas tak bertenaga.

                Apa yang Anda lakukan?

                Bersama suami Tomo Kusumo Dewo (54) saya datang ke dokter spesialis penyakit dalam. Kata dokter akibat dari kadar kolesterol yang tinggi serta antibodi balik menyerang tubuh sendiri. Ini agak aneh, sebab setelah saya cek di laboratorium kolesterol saya justru rendah sekali.

Tapi setelah diberi berbagai macam obat tetap saja tidak ada perubahan, bahkan rasa lemas itu makin hari makin parah. Tidak mempan di satu dokter saya mencoba ke dokter lain, tapi rata-rata diagnosanya nyaris sama dan tidak ada perkembangan yang menggembirakan bahkan makin parah.

                Lalu?

Aku bersama Mas Tomo terus berusaha, keliling naik mobil mencari kesembuhan.   Dimana ada sedikit informasi soal pengobatan baik medis maupun alternatif pasti kami datangi. Saking banyaknya tempat pengobatan sampai saya tak ingat lagi.

                Pernah suatu ketika bersama Mas Tomo mendatangi seorang paranormal di Pekalongan. Dari percakapan itu sang paranormal berjanji bisa menyembuhkan tapi dengan syarat harus menyerahkan uang Rp 100 juta ditambah sebuah mobil baru dengan warna yang dipilihnya. Tapi karena begitu besarnya keinginan untuk sembuh saya turuti semuanya. Tapi, janji tinggal janji kondisi fisikku tak berubah sama sekali.

Dari sekian banyak pengobatan apa tidak ada perubahan?

                Tidak ada bahkan justru makin parah, akhirnya saya lumpuh total. Untuk melakukan aktifitas pribadi saya dibantu oleh seorang suster. Ketika kondisi saya sudah lumpuh total, baru diketahui penyakitnya. Ceritanya, ketika ke dokter internis, si dokter meminta saya melakukan pemeriksaan MRI. Dari hasil MRI tersebut, diketahui bahwa di batang otak saya tumbuh tumor. Yang membuat kami syok, dokter tersebut memvonis bahwa usiasaya diperkirakan hanya bertahan enam bulan lamanya.

                Kendati demikian saya dan Mas Tomo tetap berusaha saling menguatkan. Kami mencoba ke dokter lain, tapi tak ada satupun yang bisa memberi harapan. Mereka semua pesimis, kalau memang ada yang bersedia melakukan operasi selalu diembel-embeli dengan kalimat, “Tingkat keberhasilannya maksimal hanya 50 persen itupun resikonya bisa lumpuh permanen atau tuli.” Saya dan suami stres berat, tubuh saya hanya tinggal kulit dan tulang. Makin lama jangankan bergerak atau berbicara, untukbernafaspun sudah mulai kesulitan. Di tengah ketidakberdayaan itu saya mendapat cobaan yang lebih berat lagi.

Apa itu?

                Penyakit jantung Mas Tomo kambuh. Dia masuk ICU RS di Yogjakarta dan sehari kemudian pada 22 Maret 2012 meninggal dunia. Tidak bisa digambarkan bagaimana terguncangnya perasaan saya saat itu. Saya kehilangan lelaki terbaik yang pernah saya kenal. Karena itu, saya sempat berwasiat kalau memang akhirnya saya meninggal, saya minta di makamkan berdampingan dengan Mas Tomo.

                Tapi sebulan lebih kepergian Mas Tomo saya mendapat informasi berharga dari sahabat saya Patricia yang tinggal di Padang, jika di Surabaya ada seorang dokter bedah saraf yang ahli di bidang tumor otak. Meski saya tak berharap banyak, tapi tak ada salahnya untuk mencoba ke Surabaya siapa tahu Allah memberikan jalan kesembuhan. Lalu pada April 2012 dengan diantar Patricia saya menemui dr. Sofyan.

Apa kata dokter tentang sakit Anda?

                Saat bertemu dengan dr. Sofyan, SpBS bersama dr. Gigih Pramono, SpBS, kemudian dilakukan pemeriksaan, setelah itu dokter mengatakan jika timnya siap untuk melakukan operasi. Saya masih ingat sekali, saat itu Patricia bertanya apa resikonya jika dilakukan operasi. Dengan yakin dr. Sofyan menjawab, “Resikonya ibu Vera akan sembuh!”

Mendengar kalimat itu hati rasanya bahagia sekali, saya seolah punya semangat baru untuk sembuh. Dan bermodalkan keyakinan itu saya tidak berpikir panjang lagi jika keesokan harinya di lakukan operasi.

Menjelang detik-detik masuk ke meja operasi tak ada yang bisa saya lakukan kecuali hanya berdoa kepada Allah semoga semuanya lancar. Dan alhamdulillah, operasi yang berjalan 12 jam lamanya itu berjalan sukses.

Usai operasi perkembangan fisik Anda bagaimana?

Seperti mendapat mukjizat. Setelah 13 hari menginap di rumah sakit kemudian kembali ke Yogjakarta, kondisi saya semakin hari semakin membaik. Saya sudah bisa menggerakkan badan, belajar berjalan, dan akhirnya kembali seperti sediakala. Sungguh ini berkah tak terkira dari Allah. Kalau ingat semua rasanya nyaris tak percaya. Nah, setelah sembuh ada cerita unik.

Cerita apa itu ?

Suatu ketika saya bertemu dengan dokter yang dulu memvonis jika usia saya tinggal enam bulan lamanya. Dokternya tak henti-hentinya memandangi tubuh saya dari kaki sampai ujung rambut berulang kali. Dia nyaris tak percaya saya bisa bugar seperti saat ini.

Kini sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Allah atas kesembuhan ini, saya sekarang berusaha mendatangi orang-orang yang sakit, terutama mereka yang mirip seperti yang saya alami. Disana, saya memberi motivasi kepada mereka agar tidak putus asa dan tak pernah berhenti berusaha.

 

meningioma, tumor otak, buta, lumpuh, migrain, nyeri kepala, CT scan, mri

LETAK TUMOR ADA DI BAGIAN YANG SULIT

Dokter Gigih Pramono SpBS yang melakukan pengangkatan tumor menjelaskan bahwa operasi Vera cukup sulit. Karena, letak tumor tersebut menempel diantara batang otak dan sumsum tulang belakang. “Yang membuat sulit lagi, posisi tumor itu ada di bagian depan batang otak dan sumsum tulang belakang. Semantara operasinya dilakukan dari arah belakang,” kata dr. Gigih Pramono, SpBS, yang memperdalam bedah tumor di Yokaici Japan dan Strassbourg Perancis tersebut.

Karena terhalang batang otak ia terpaksa melakukan pembedahan dari celah yang sangat sempit dari arah sedit kesamping. Untuk memudahkan pengangkatan tumor tdak bisa dilakukan secara langsung tapi harus dipotong perbagian. “Itulah salah satu faktor mengapa operasinya membutuhkan waktu yang cukup lama,” kata Gigih.

Gigih menegaskan, bahwa kondisi Vera pada saat itu memang cukup parah, hal itu diakibatkna 70 persen volume tumor sudah menekan rongga batang otak dan sumsum tulang belakang. Tekanan tumor yang ada di batang otak mengakibatkan beberapa fungsi tubuh Vera terganggu, mulai terjadinya kelumpuhan pada seluruh anggota tubuh serta kesulitan bernafas karena pusat pengendali pernafasan di batang otak tertekan oleh tumor.

Yang tak kalah rumitnya, operasi yang menggunakan teknik micro surgery itu sendiri harus ekstra hati-hati supaya tidak merusak organ penting yang ada di sekitarnya. “Kesalahan sedikit saja bisa fatal akibatnya,” kata Gigih sambil menjelaskan diperlukan jam terbang tinggi untuk menangani kasus-kasus seperti Vera tersebut.

Bulletin